| Judul | Learning to Industrialize: From Given Growth to Policy-Aided Value Creation |
| Penulis | Kenichi Ohno |
| Penerbit | Routledge |
| Tahun terbit | 2014 |
| Jumlah halaman | 357 (penulisan jumlah halaman bisa bervariasi) |
Dalam kesempatan ini saya akan menulis review atau resensi tentang sebuah buku yang berjudul Learning to Industrialize: From Given Growth to Policy-Aided Value Creation.
Learning to Industrialize ditulis oleh Kenichi Ohno, Profesor di National Graduate Institute for Policy Studies, Tokyo. Ia lahir di Kobe, Jepang dan meraih gelar PhD di bidang Ekonomi dari Universitas Stanford, California. Ia pernah bekerja di International Monetary Fund (IMF) dan mengajar di Universitas Tsukuba dan Universitas Saitama.
Profesor Ohno telah menulis banyak buku dan artikel tentang pembangunan ekonomi, khususnya tentang industrialisasi di Asia Timur. Ia dikenal karena penelitiannya tentang kebijakan industri proaktif, di mana negara memainkan peran penting dalam membimbing dan mendukung sektor swasta.
Bisa dibilang, latar belakang Profesor Ohno menulis buku ini adalah ia berpendapat bahwa banyak negara berkembang saat ini telah menerima gagasan kebijakan industri dan ingin mempelajari hal-hal penting dari praktiknya. Akan tetapi, mereka seringkali kekurangan pengetahuan tentang cara merancang dan melaksanakan kebijakan industri secara efektif.
Negara-negara berkembang perlu belajar dari pengalaman negara-negara lain dan menerapkan kebijakan yang tepat untuk membangun kemampuan industri mereka. Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang kuat, kemitraan publik-swasta yang efektif, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, buku ini ditulis untuk mengatasi kesenjangan tersebut dengan memberikan panduan konkret dan sistematis tentang cara merumuskan dan melaksanakan kebijakan industri, serta cara menghindari jebakan umum.
Dalam menyajikan buku ini, Profesor Ohno membaginya ke dalam 10 bab atau chapter.
Profesor Ohno membuka pembahasannya melalui Bab 1 “The Development Trap” dengan menyampaikan bahwa globalisasi memiliki kecenderungan alami untuk mempolarisasi pendapatan antar negara.
Ini membantu negara-negara kaya untuk memperkuat keunggulan mereka dan memaksimalkan manfaat dari kekuatan industri mereka melalui perdagangan dan investasi yang bebas tetapi timpang.
Sementara itu, pengetahuan tidak mengalir bebas dari negara tingkat tinggi ke negara tingkat rendah, dan negara-negara yang terlambat tidak diberi kesempatan atau waktu yang cukup untuk mengejar keterampilan dan teknologi.
Tidak dapat dipungkiri terdapat kecenderungan polarisasi globalisasi di zaman kita, tetapi juga tidak disarankan untuk menjadikan globalisasi sebagai musuh utama pembangunan.
Kemudian pada Bab 2 “Industrial Policy in the Age of Globalization”, Profesor Ohno menyampaikan bahwa saat ini banyak negara berkembang telah menerima gagasan kebijakan industri dan ingin mempelajari hal-hal penting dari praktiknya.
Kebijakan industri proaktif diusulkan di mana para pendatang yang terlambat menyeimbangkan negara dan pasar serta komitmen integrasi dan retensi alat kebijakan yang memadai.
Sejumlah pertanyaan yang sering diajukan ditinjau, dan masalah yang umum dihadapi seperti sektor swasta yang lemah, masalah yang ditimbulkan oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan politik pembangunan juga dibahas.
Selanjutnya, di Bab 3 “Ingredients of Proactive Industrialization” konsep belajar kebijakan diperkenalkan, dialog kebijakan dengan negara berkembang seperti yang dipraktikkan oleh Jepang dan Korea Selatan dijelaskan, dan arti “belajar dari Asia Timur” ditinjau kembali.
Sisa bab ini dikhususkan untuk eksposisi alat kebijakan standar untuk pengembangan kemampuan industri seperti kaizen, shindan, universitas teknik dan perguruan tinggi teknik, hubungan pelatihan-industri, kawasan industri, dan pemasaran FDI strategis.
Paket kebijakan yang lebih kompleks seperti promosi usaha kecil dan menengah, promosi ekspor terpadu, penciptaan industri yang sama sekali baru, dan pembangunan regional yang komprehensif dengan infrastruktur inti juga dibahas.
Setelah pentingnya kepemimpinan ditekankan, dijelaskan unsur-unsur penting dalam prosedur pembuatan kebijakan, yaitu visi, pembangunan konsensus, dokumentasi, dan partisipasi pemangku kepentingan. Inilah yang dibahas dalam Bab 4 “Procedure and Organization”.
Berbagai organisasi kebijakan disorot dengan contoh internasional yang konkret, termasuk tim teknokrat yang mendukung pemimpin puncak, dewan atau komite nasional, kementerian super, lembaga khusus sebagai pusat pembuatan kebijakan, dan pemimpin yang kuat tanpa pelembagaan.
Selain itu, diilustrasikan juga isi standar dokumen kebijakan industri, dan ditambahkan saran tentang prosedur dan organisasi kebijakan Vietnam sebagai contoh.
Setelah membahas ide-ide dan metode, buku ini selanjutnya membahas studi kasus beberapa negara.
Negara yang menjadi pembahasan dalam studi kasus pertama adalah Jepang, melalui Bab 5 “Meiji Japan: From Feudalism to Industrialization”. Jepang pada paruh kedua abad ke-19, yang menginternalisasi teknologi Barat dengan kuat dan efektif, dianalisis dari perspektif sejarah, politik, dan langkah-langkah kebijakan tertentu.
Studi kasus kedua adalah Singapura, pada Bab 6 “Singapore: National Productivity Movement”. Di sini diceritakan gerakan produktivitas nasional Singapura yang dimulai dengan inisiatif dari atas ke bawah tetapi akhirnya berasimilasi secara luas dan berlanjut.
Taiwan menjadi negara ketiga yang dibahas dalam studi kasus, yakni Bab 7 “Taiwan: Policy Drive for Innovation”. Bab tersebut menjelaskan dorongan inovasi Taiwan yang menampilkan kementerian yang kuat, proyek pengembangan teknologi, lembaga penelitian, dan taman sains.
Malaysia mendapat kesempatan untuk dibahas dalam Bab 8 “Malaysia: Trapped in Upper Middle Income”. Upaya keras Malaysia untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah ke atas dijelaskan di mana mekanisme kebijakan yang sangat canggih dikontraskan dengan tanggapan yang lesu dari sektor swasta.
Saya pun mulai bertanya-tanya apakah Indonesia juga akan dibahas?
Pada Bab 9 “Vietnam: Growth without Quality”, dibahas kesadaran Vietnam akan kurangnya kualitas pertumbuhan dan penciptaan nilai internal diperiksa meskipun pertumbuhannya luar biasa dalam dua dekade terakhir setelah liberalisasi ekonomi dan integrasi global.
Terakhir, Bab 10 “Ethiopia: the Growth and Transformation Plan” mendokumentasikan proses pembelajaran kebijakan Ethiopia, negara berpenghasilan rendah dengan kondisi awal yang sulit, yang didukung oleh tekad politik yang teguh dan keinginan kuat untuk belajar dari Asia Timur dan bukan dari Washington.
Ternyata Indonesia tidak menjadi salah satu negara yang di bahas secara detail dalam bab-bab studi kasus. Apakah Profesor Ohno menganggap pembahasan Malaysia sudah cukup mewakili? Mungkin, akan tetapi saya tetap berharap Indonesia juga dibahas dalam buku ini.
Setelah membaca buku ini, saya menyimpulkan bahwa buku ini bukan hanya memberikan analisis yang tajam tentang tantangan industrialisasi, tetapi juga menawarkan panduan praktis tentang cara merumuskan dan melaksanakan kebijakan industri.
Dalam hal ini, Profesor Ohno membahas berbagai instrumen kebijakan seperti kaizen, shindan, universitas teknik, dan kawasan industri. Ia juga memberikan contoh konkret tentang bagaimana merancang master plan industri, memobilisasi sumber daya, dan membangun kemitraan publik-swasta yang efektif. Ia juga menekankan pentingnya pemantauan dan evaluasi kebijakan secara berkala untuk memastikan bahwa kebijakan yang dibuat mencapai tujuan yang diinginkan.
Secara keseluruhan, Learning to Industrialize: From Given Growth to Policy-Aided Value Creation adalah sebuah buku yang kaya akan informasi dan wawasan tentang industrialisasi di negara-negara berkembang. Profesor Ohno berhasil memadukan analisis teoritis dengan studi kasus empiris untuk memberikan panduan yang komprehensif dan relevan bagi para pembuat kebijakan.
Meskipun fokus utama buku ini adalah pada negara-negara Asia Timur, pelajaran dan rekomendasi yang diberikan oleh Profesor Ohno relevan bagi negara-negara berkembang di seluruh dunia. Oleh karena itu, buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa pun yang ingin memahami dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi negara-negara berkembang.
Anda pernah membaca buku ini? Bagaimana pendapat Anda tentang buku ini?
Mari tulis komentar Anda melalui form yang telah di sediakan di bawah artikel ini.
Mohamad Iqbal Akhirudin – Kaji.ID